CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Rabu, 14 Januari 2009

STRATEGI PEMBELAJARAN

Strategi pengajaran merupakan hal yang penting dalam kegiatan bel-ajar meng¬¬ajar di kelas, karena strategi dapat menciptakan kondisi bel¬ajar yang men¬dukung pencapaian tujuan pembelajaran. Selain itu, strategi peng¬ajaran yang di¬pilih dan dipergunakan dengan baik oleh guru dapat mendo¬rong siswa untuk aktif mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas.
Pemilihan strategi mengajar harus dilandaskan pada pertimbangan me¬¬nem¬¬¬¬patkan siswa sebagai subjek belajar yang tidak hanya menerima se-cara pa¬sif apa yang disampaikan oleh guru. Guru harus menempatkan sis-wanya se¬bagai in¬san yang secara alami memiliki pengalaman, penge¬ta¬¬huan, keinginan, dan pikiran yang dapat dimanfaatkan untuk belajar, baik secara individual maupun secara berkelompok. Strategi yang dipilih guru adalah stra-tegi yang dapat membuat sis¬wa¬nya mempunyai keya¬kinan bahwa dirinya mampu belajar dan dapat meman¬faat¬kan potensi sis¬wa seluas-luasnya. Di samping itu, pemilihan strategi amat bergantung pada tujuan pem¬belajaran yang hen¬dak dicapai, macam dan jumlah siswa yang terlibat di da¬lam pro¬ses pembel¬ajaran, dan lama waktu yang tersedia untuk mencapai tu¬juan yang dimaksud.
Untuk keperluan itu, diperkenal¬kan beberapa ciri kegiatan pembel-ajaran efektif yang dapat menuntun guru dalam memilih dan menentukan stra¬tegi yang tepat di dalam proses pembelajaran. Dengan pemilihan dan penentuan strategi yang tepat, akan membantu meningkatkan minat tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Ciri-ciri pembelajaran efektif yang dimaksudkan adalah sebagai berikut ini.
(i) Pembalikan Makna dan Hakikat Belajar
Proses membangun makna dan pemahaman terhadap informasi, kon¬sep, dan pe¬ngalaman dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain melalui proses penyaringan dengan persepsi, pikiran, atau penge¬tahuan awal, dan perasaan siswa. Mengajar merupa¬kan kegiatan par¬tisipasi dan fasilitasi guru dalam membangun pe¬ma¬haman siswa dalam wujud pikiran dan tindakan; seperti bertanya secara kritis, me¬min¬ta keje¬las¬an, atau me-nyajikan situasi yang tampak bertentangan dengan pe¬ma¬haman siswa se-hingga siswa 'terdorong' untuk memperbaiki pema¬ha¬m¬an¬nya. Namun, par-tisipasi dan fasilitasi guru jangan sampai mere¬but oto¬ritas atau hak siswa dalam membangun gagasannya dan harus selalu me¬nem¬¬pat¬kan pemba-ngun¬an pemahaman itu sebagai tanggung jawab siswa itu sendiri.
(ii) Berpusat pada siswa
Setiap siswa adalah individu yang unik, siswa yang satu berbeda de¬ngan siswa lainnya, misalnya dari aspek minat, kemam¬puan, kese¬nang¬an, pengalaman, cara, dan gaya belajar. Sebagian siswa lebih mu¬dah belajar dengan dengar-baca (audio-verbal), siswa lain lebih mudah de¬ngan melihat (visual), dan sebagian lainnya dengan cara gerak (ki¬nes¬thetic). Hal ini menuntut kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pem-belajaran, waktu belajar, alat/media belajar, dan cara peni¬laian yang be-ragam sesuai karakteristik siswa. Artinya, kegiatan pem¬bel¬ajaran ha¬rus mem¬per¬hatikan ba¬kat, minat, kemampuan, cara dan strategi belajar, mo-tivasi bel¬ajar, dan latar belakang sosial siswa sehing¬ga dapat men¬dorong siswa untuk mengembangkan potensi yang dimi¬liki¬nya secara optimal.
(iii) Belajar dengan mengalami
Pengalaman langsung melalui indrawi yang me¬mungkinkan mereka mem¬¬¬peroleh informasi dengan melihat, mendengar, meraba/menjamah, mencicipi, dan mencium. Kegiatan pembelajaran harus menyediakan peng¬a¬laman nyata dalam kehidupan sehari¬-hari dan atau du¬nia kerja yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah dan prinsip ilmu yang dipelajari; Untuk beberapa topik yang tidak mungkin dise¬diakan peng¬a¬laman nyata, guru dapat menggantikannya dengan model atau situasi bu¬atan dalam wujud simulasi atau pengalaman melalui alat dengar¬-pan¬dang (audio-visual).
(iv) Mengembangkan keterampilan kognitif, sosial, dan emosional
Kegiatan pem¬belajaran memberi peluang dan mendorong siswa untuk membangun pemahaman dengan meng¬komunikasikan gagasannya ke-pa¬da siswa lain atau guru. Melalui interaksi lingkungan sosialnya, siswa akan bekerja sama dalam kelompok yang dapat mempertajam, memper-dalam, memantapkan, atau me¬nyem¬purnakan pemahaman dan gagas¬an itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau saling meng¬isi. Kegiatan belajar berkelom¬pok atau berpasangan memungkinkan sis¬wa bersosialisasi dengan meng¬hargai perbedaan pendapat, sikap, ke¬mam-puan, dan prestasi dan berlatih untuk bekerja sama yang dapat me¬num-buhkembangkan rasa empati dalam diri siswa yang akhirnya dapat mem-bangun saling pengertian dan hidup bersama secara har¬monis (learning to live together).
(v) Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan
Kegiatan pembelajaran harus dapat me¬¬num¬¬buhkan rasa ingin tahu, ima-jinasi, dan fitrah ber-Tuhan yang me¬ru¬pakan fitrah siswa sebagai ma¬nu¬sia. Rasa ingin tahu dan imajinasi merupakan modal dasar untuk bersikap peka, kritis, mandiri, dan kreatif. Sementara, rasa fitrah ber¬Tuhan merupa-kan embrio atau cikal bakal untuk bertaqwa kepada Tuhan.
(vi) Belajar sepanjang hayat
Kemampuan dan kemauan untuk belajar sepan¬jang hayat agar bisa ber-tahan (survive) dan berhasil (sukses) dalam meng¬hadapi setiap ma¬salah sambil menjalani proses kehidupan sehari-hari dita¬namkan de¬ngan bekal keterampilan belajar yang meliputi pengembangan rasa per¬caya diri, ke-ingintahuan, kemampuan memahami orang lain, ke¬mam¬¬puan berko¬mu-nikasi dan bekerja sama supaya mendorong dirinya un¬tuk senantiasa bel-ajar, baik secara formal di sekolah maupun secara in¬formal di luar kelas. Kegiatan pembelajaran perlu mendorong siswa un¬tuk dapat melihat diri-nya secara positif, mengenali dirinya baik kelebihan mau¬pun ke¬ku-rangannya untuk kemudian dapat mensyukuri apa yang telah di¬anu-gerahkan Tuhan YME kepadanya.
(vii) Perpaduan kemandirian dan kerjasama
Kegiatan pembelajaran memberi peluang yang menuntut dan menan¬tang siswa untuk bekerja sama, berkom¬petisi, dan mengembangkan so¬li¬daritas¬-nya. Kegiatan-kegiatan itu memberi¬kan kesempatan kepada sis¬wa untuk me¬ngembangkan semangat berkom¬petisi secara sehat untuk memperoleh penghar¬gaan, bekerja sama, dan solidaritas. KBM perlu me¬¬nyediakan tugas-tugas yang memungkinkan siswa bekerja secara mandiri maupun bekerja secara kelompok.
Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran efektif tersebut, maka ada beberapa strategi yang dapat dipilih dan digunakan oleh guru dalam melaksanakan pem¬¬¬bel¬ajaran yang efektif, di anta¬ranya adalah (1) strategi pembelajaran ber-basis masa¬lah, (2) strategi pembelajaran inquiry & discovery, (3) strategi pem-belajaran berbasis pro¬yek/tugas, (4) strategi pembel¬ajaran kooperatif, (5) pembelajaran partisipatori, (6) strategi pembelajaran scaffolding.
Semua strategi pembelajaran tersebut didisain untuk mengoptimalkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran dan untuk mem-bantu siswa secara kreatif merekonstruksi sendiri pemahamannya terhadap topik-topik pembelajaran. Di samping itu, masing-masing strategi mengan-dung elemen-elemen strategi interaksi pembelajaran yang dapat menunjang pe¬nguatan aspek pribadi, sikap, dan perilaku tertentu siswa yang diharapkan dapat menjadi dampak pengiring pembelajaran.
1. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah menggunakan masalah dunia nyata se¬bagai kon¬teks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan kete-rampilan pemecahan masalah serta memperoleh pengetahuan dan kon¬sep esen¬sial dari materi pelajaran. Pembelajaran bermakna hanya dimung¬kinkan terjadi bila siswa dapat mengerahkan proses berpikir tingkat tinggi, seperti pada level analisis, sintesis, dan evaluasi. Ka¬rena itu, guna merang¬sang siswa berpikir tingkat tinggi, mereka perlu di¬orientasikan pada situasi ber-masalah termasuk bagaimana belajar, dengan menggunakan fenomena di dunia nyata sekitar
Pembelajaran berbasis masalah dapat ditempuh melalui lima tahap se-ba¬gai berikut.
 Tahap 1: orientasi siswa kepada masalah.
Guru menjelaskan tujuan pem¬belajaran dan logistik yang dibutuhkan, serta memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
 Tahap 2: mengorganisasi siswa untuk belajar.
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorgani¬sasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
 Tahap 3: membimbing penyelidikan individual dan kelompok.
Guru men¬¬dorong siswa untuk me¬¬ngum¬¬¬¬¬¬¬¬¬pulkan informasi yang sesuai dan me¬laksana¬kan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan peme¬cah-an masalahnya.
 Tahap 4: mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
Guru memban¬tu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model, serta membantu mereka mambagi tugas dengan temannya.
 Tahap 5: menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Guru membantu siswa me¬¬la¬¬ku¬kan refleksi atau evaluasi terhadap pe¬nye-lidikan dan proses-proses yang mereka gunakan.
2. Strategi Pembelajaran Inquiry & Discovery
Pembelajaran inquiry & discovery mendorong siswa untuk mengalami, melakukan per¬cobaan, dan menemukan sendiri prinsip-prinsip dan konsep yang di¬ajar¬kan. Stra¬tegi pembelajaran inquiry & discovery memiliki beberapa keuntungan, seperti da¬pat mem¬bangkitkan curiosity, minat, dan motivasi sis¬wa untuk terus belajar sampai dapat menemukan jawaban. Di samping itu, melalui penerapan stra¬tegi inquiry & discovery, siswa juga dapat belajar memecahkan masalah secara man¬diri dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis se¬bab mereka harus meng¬analisis dan mengutak-atik data dan informasi.
Secara operasional, pembelajaran inquiry & discovery dapat ditempuh melalui tahapan berikut:
 Sajikan situasi teka-teki (puzzling situation) yang sesuai dengan tahapan perkembangan siswa. Jelaskan prosedur inkuiri dan sajikan masalah.
 Minta siswa mengumpulkan informasi melalui observasi atau berdasar peng¬alaman masing-masing.
 Minta siswa menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk tulisan, gam¬bar, bagan, tabel, atau karya lain.
 Minta siswa mengkomunikasikan dan menyajikan hasil karyanya, mi¬sal¬-nya dalam bentuk penyajian di kelas, menempelkan di majalah dinding, menulis di koran, dsb.
 Dalam penyajian di kelas, bangkitkan tanggapan dan penjelasan siswa lain. Minta tanggapan balik (counter-suggestions) dan selidiki tanggap¬an sis¬wa. Hadapkan mereka dengan demonstrasi-demonstrasi tam¬bah¬an un-tuk meng¬eksplorasi lebih jauh fenomena.
 Ciptakan lingkungan yang dapat menerima jawaban salah tapi masuk akal. Selalu minta siswa memberi alasan atas jawaban-jawaban mere¬ka. Sajikan tugas-tugas yang berkaitan kemudian cermati dan beri balik¬an atas pemikiran yang diajukan siswa.
3. Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek/Tugas
Pembelajaran berbasis proyek/tugas (project-based/task learning) di-tandai dengan pengelolaan lingkungan belajar yang memungkin¬kan siswa me¬lakukan penyelidikan terhadap masalah otentik termasuk pen¬dalaman ma-teri dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lain-nya. Dalam pem¬bel¬ajaran berbasis proyek, siswa diberikan tu¬gas atau pro¬yek yang kompleks, cukup sulit, lengkap, tetapi realistik dan kemudian di¬be¬rikan bantuan secukupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas. Di sam¬ping itu, penerapan strategi pembel¬ajaran berbasis proyek/¬tugas ini mendo¬rong tumbuhnya kompetensi nurturant seperti kreativitas, ke¬mandirian, tanggung jawab, keper¬cayaan diri, dan berpikir kritis dan analitis.
Implementasi pembelajaran berbasis proyek/tugas didasarkan kepada empat prinsip berikut ini.
 Membuat tugas bermakna, jelas, dan menantang
Guna mempertahankan tingkat keterlibatan siswa dalam proses pem¬bel-ajaran, maka tugas yang diberikan kepada siswa harus cukup ber¬makna dan memiliki tujuan yang jelas. Siswa perlu mengetahui de¬ngan tepat apa yang mereka harus kerjakan, mengapa mereka me¬nger¬jakan pekerjaan itu, dan apa yang dibutuhkan untuk menyele¬sai¬kan pekerjaan itu.
 Menganekaragamkan tugas-tugas
Pilihan tugas yang beraneka ragam dapat menambah daya tarik tugas pe-kerjaan kelas dan pekerjaan rumah. Jika tugas belajar yang dibe¬rikan cu-kup bervariasi, siswa dapat lebih termotivasi dan lebih terlibat aktif dalam menger¬jakannya. Pilihan mengenai tugas belajar tidak ter¬batas dan tidak ada alasan bagi guru untuk membuat jenis tugas yang sama dari hari ke hari.
 Menaruh perhatian pada tingkat kesulitan
Menetapkan tingkat kesulitan yang cocok atas tugas-tugas yang dibe¬rikan kepada siswa merupakan satu bahan baku penting untuk menja¬min ke¬ter-libatan berkelanjutan yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas-tugas ter¬sebut. Jika siswa diharapkan untuk bekerja secara man¬¬diri, tugas yang dibe¬ri¬kan harus memiliki tingkat kesulitan yang men¬jamin kemungkinan berhasil tinggi. Siswa tidak akan tertantang ketika tugas-tugas yang dibe-rikan terlalu mudah. Tugas yang baik per¬lu memiliki tingkat kesulitan cu-kup sehingga kebanyakan siswa me¬mandangnya sebagai sesuatu yang menan¬tang, na¬mun cukup mudah sehingga kebanyakan siswa akan me-nemukan pemecah¬annya dan mengerjakan tugas tersebut atas jerih pa-yah sendiri.
 Memonitor kemajuan siswa
Salah satu tugas penting guru adalah memonitor tugas-tugas pe¬ker¬jaan kelas dan pekerjaan rumah. Monitoring tersebut bertujuan un¬tuk me¬nge-tahui apa¬kah siswa memahami tugas mereka melalui peme¬rik¬saan pe-kerjaan siswa dan pe¬ngem¬balian tugas dengan umpan ba¬lik? Guru harus selalu me¬nye¬diakan waktu 5 atau 10 menit untuk ber¬keliling di antara sis-wa yang be¬kerja untuk memastikan apakah mere¬ka memahami dan me-ngerjakan dengan benar tugas yang diberikan. Apabila siswa bekerja ber-kelompok, maka guru hendaknya berada dalam kelompok tersebut secara bergantian dan berke¬liling di antara sis¬wa yang bekerja secara mandiri. Selanjutnya, guru perlu menyiap¬kan waktu untuk mengoreksi pekerjaan yang dihasilkan siswa dan mengembalikan kepada mereka dengan umpan balik, ter¬masuk mem¬beri reinforcement dalam bentuk reward bagi hasil karya yang baik dan catatan-catatan penyempurnaan bagi karya yang belum optimal.
Beberapa contoh tugas/proyek berikut dapat dipilih sebagai peng-alaman belajar untuk beberapa mata pelajaran pada tingkatan sekolah dasar.
 Menggubah syair lagu dan bernyanyi
 Bermain peran
 Menggambar dan mengarang
 Menulis prosa, puisi, pantun, gurindam
 Mengisi teka-teki
 Mengajukan pertanyaan penelitian
 Membuat rangkuman/sinopsis
 Mendemonstrasikan hasil temuan
 Mencari pemecahan soal-soal Matematika
 Membuat soal cerita
 Mengukur panjang, berat, suhu
 Merencanakan dan melakukan percobaan
 Merencanakan dan melakukan penelitian sederhana .
 Membuat buku harian
 Membuat kamus
 Melakukan simulasi dengan komputer
 Mengelompokkan sambil mengidentifikasi (mengenali ciri) benda
 Mengumpulkan dan mengoleksi benda dengan karakteristiknya
 Membuat komik
 Membuat ramalan dan berekstrapolasi
 Membuat grafik, diagram, chart atau grafik
 Membuat jurnal
 Menyiapkan dan melaksanakan pameran
 Menggunakan alat (alat ukur, alat potong, alat tulis)
 Praktek menjadi khatib atau pendeta
 Praktek berceramah
 Membuat poster
 Membuat model (seperti kotak, silinder, kubus, segitiga, lingkaran)
 Menata pajangan
 Menata buku perpustakaan
 Membuat daftarpertanyaan untuk wawancara
 Melakukan wawancara
 Membuat denah
 Membuat catatan hasil penjelasan hasil pengamatan
 Mencari informasi dari ensiklopedia
 Melakukan musyawarah
 Mengunjungi dan menemukan alamat web-site
 Bernegosiasi
 Mendiskusikan wacana dari media cetak/media elektronik
 Membuat cerita gambar
 Membuat resensi buku
 Mengkritisi suatu artikel
 Mengkaji pola tulisan suatu artikel
 Menulis artikel ilmiah popular
 Membuat kamus
 Membuat ensiklopedia
4. Strategi Pembelajaran Kooperatif
Dalam pembelajaran kooperatif, siswa bekerja dalam ke¬lom¬pok kecil untuk saling membantu belajar satu sama lain. Strategi pem¬belajaran ini, me-mungkinkan pengembangan sejumlah kompetensi nurtu¬rant pada diri siswa, seperti:
 Mengembangkan keterampil¬an komunikasi, kerja sama, kepekaan so¬sial, tanggung jawab, tenggang rasa, dan penyesuaian sosial.
 Membangun persahabatan, rasa saling percaya, kebiasaan bekerja¬ sa¬ma, dan sikap prososial.
 Memperluas perspektif wawasan, keyakinan terhadap gagasan sendiri, rasa harga diri, dan penerimaan diri.
 Memungkinkan sharing pengalaman dan saling membantu dalam meme-cah¬kan masalah pembelajaran.
 Mengoptimalkan penggunaan sumber belajar dan pencapaian hasil bel-ajar.
Secara operasional, pembelajaran kooperatif dapat diterapkan melalui metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan metode Inves-tigasi Kelompok (Group Investigation)
Pelaksanaan metode Student Team Achievement Divisions ditempuh de¬ngan beberapa tahapan sebagai berikut:
 Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota.
 Setiap tim memiliki anggota heterogen (jenis kelamin, ras, etnik, ke¬mam-puan belajar).
 Tiap anggota menggunakan lembar kerja akademik.
 Tiap anggota saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi.
 Secara individual atau tim, tiap minggu atau tiap dua minggu dilakukan eva¬luasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan yang telah dipelajari.
 Setiap siswa dan setiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar. Siswa atau tim yang meraih prestasi tertinggi atau men¬capai standar tertentu diberi penghargaan.
Metode Invistigasi Kelompok dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:
 Seleksi topik, para siswa memilih berbagai sub-topik dalam satu wilayah ma¬salah umum terkait dengan tujuan pembelajaran.
 Organisasi, para siswa dibagi ke dalam kelompok yang berorientasi pada tu¬gas dan beranggotakan 2 - 6 orang dengan komposisi he¬terogen.
 Merencanakan kegiatan kerjasama, siswa bersama guru meren¬ca¬nakan ber¬bagai prosedur belajar khusus, tugas, dan tujuan umum yang sesuai dengan sub-topik yang telah dipilih.
 Tahap implementasi. Siswa melaksanakan rencana yang telah disu¬sun. Do¬rong siswa menggunakan berbagai sumber, baik di dalam maupun di luar sekolah.
 Analisis dan sintesis, siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang diperoleh dan membuat ringkasan untuk disajikan di depan kelas.
 Penyajian hasil akhir, setiap kelompok menyajikan hasil investigasi kelom-poknya di depan kelas.
 Evaluasi, guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup siswa secara individu atau secara berkelom¬pok, atau keduanya.
5. Strategi Pembelajaran Partisipatori
Pembelajaran partisipatori me¬¬nekankan pelibatan siswa untuk berpar-tisipasi dan ikut menentukan berbagai aktivitas pembelajaran. Setiap siswa ada¬lah subjek yang kepentingannya perlu diperhatikan dan diakomodasi da-lam pro¬ses pembelajaran. Pelibatan siswa dalam perencanaan dan penen-tuan berbagai pilihan tindakan pem¬belajaran dapat meningkatkan motivasi dan komitmen siswa untuk menekuni setiap tugas pembelajaran. Di samping itu, strategi ini dapat men¬do¬rong tumbuh dan berkembangnya jiwa demok¬ratis serta kemampuan mengemu¬kakan dan menerima pendapat di kalangan siswa.
Pelaksanaan pembelajaran partisipatori dapat ditempuh melalui stra¬te¬gi sebagai berikut:
 Libatkan siswa dalam membuat perencanaan dan pilihan tindakan yang diperlukan dalam proses pembelajaran. Misalnya, dalam memu¬tus¬kan me-nge¬nai strategi umum yang perlu ditempuh, sumber pem¬belajaran, cara-cara menyelesaikan tugas, bentuk dan tugas kelom¬pok, dsb.
 Gunakan berbagai teknik, seperti brainstorming, meta-plan, diskusi kelom-pok fokus untuk mendorong semua siswa mengemu¬kakan ga¬gasan masing-masing.
 Evaluasi setiap alternatif berdasarkan kelayakan (kemampuan, sum¬ber¬-daya, waktu, fasilitas), kemudian sepakati pilihan yang dapat di¬terima se-mua pihak. Dimungkinkan setiap individu atau kelompok me¬milih ca¬ranya masing-masing untuk mencapai tujuan sepanjang ber¬kontribusi pada pencapaian tujuan pembelajaran.
 Dorong siswa melaksanakan alternatif tindakan secara konsisten, na¬mun tetap memberi peluang dilakukannya refleksi, revisi, dan per¬ubahan rencana tindakan.
6. Strategi Pembelajaran Scaffolding
Pembelajaran Scaffolding merupakan praktik assisted learning, yakni teknik pemberian dukungan belajar yang pada tahap awal diberikan secara lebih terstruktur, kemudian secara berjenjang sebagai peranan guru dalam men¬dukung perkem¬bangan siswa dan menyediakan struktur dukungan untuk men¬capai tahap atau level berikutnya. Ketika pengetahuan dan kompe¬tensi belajar siswa meningkat, guru secara berangsur-angsur mengurangi pem-berian dukung¬an. Sesungguhnya, strategi pembelajaran scaffolding mendo-rong siswa menjadi pelajar yang mandiri dan mengatur diri sendiri (self- re-gulating). Jika siswa belum mam¬pu men¬¬ca¬pai kemandirian, guru kembali ke sistem dukungan untuk mem¬bantu siswa memperoleh kemajuan sampai me-reka mampu mencapai keman¬dirian.
Beberapa keuntungan pembelajaran Scaffolding adalah:
 Memotivasi dan mangaitkan minat siswa dengan tugas belajar.
 Menyederhanakan tugas belajar sehingga bisa lebih terkelola dan bisa dicapai oleh anak.
 Memberi petunjuk untuk membantu anak berfokus pada pencapaian tujuan.
 Secara jelas menunjukkan perbedaan antara pekerjaan anak dan solusi standar atau yang diharapkan.
 Mengurangi frustasi dan resiko.
 Memberi model dan mendefenisikan dengan jelas harapan mengenai aktivitas yang akan dilakukan.
Teknik pembelajaran scaffolding dapat dilakukan dengan format: (1) pemberian model perilaku yang diharapkan, (2) pemberian penjelasan, (3) mengundang siswa berpartisipasi, (4) menjelaskan dan mengklarifikasi pema-haman siswa, dan (5) mengundang siswa untuk mengemukakan pendapat.
Secara operasional, strategi pembelajaran scaffolding dapat ditempuh melalui tahapan berikut.
 Asesmen kemampuan dan taraf perkembangan setiap siswa untuk me-nen¬tukan Zone of Proximal Development (ZPD).
 Jabarkan tugas pemecahan masalah ke dalam tahap-tahap yang rinci se-hingga dapat membantu siswa melihat zona yang akan di-scaffold.
 Sajikan tugas belajar secara berjenjang sesuatu taraf perkembangan sis-wa. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melalui penje¬lasan, per¬ingat¬an, dorongan (mo¬tivasi), penguraian masalah ke dalam langkah peme¬cah¬an, dan pembe¬rian contoh (modeling).
 Dorong siswa untuk menyelesaikan tugas belajar secara mandiri.
 Berikan dukungan dalam bentuk pemberian isyarat, kata kunci, tanda¬ mata (reminders), dorongan, contoh, atau hal lain yang dapat meman¬cing siswa bergerak ke arah kemandirian belajar dan pengarahan diri.
Dalam mengimplementasikan strategi-strategi pembelajaran yang di¬sa¬-rankan, guru harus selalu mengingat bahwa kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya senantiasa diarahkan untuk pencapaian dampak instruksi-onal dan dampak pengiring. Dampak instruksional bermuara pada kecer¬dasan inte¬lek¬tual (IQ), sedangkan dampak pengiring bermuara pada kecer¬dasan emo¬sional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Untuk keperluan itu, diharapkan guru dapat memilih dan me¬rancang serta mengembangkan me¬dia pembelajaran agar dapat memudahkan pencapaian IQ, EQ, dan SQ ter¬sebut. Contoh pene¬rap¬an strategi pembelajaran dalam rancangan satuan acara pembelajaran atau skenario pembelajaran dapat dilihat pada bagian Lampiran F.

0 komentar: